[MEDIA HINDU 8] MENYIKAPI PERDEBATAN AGAMA Posted by Kadek Swarna Dwi Arya Putera on 2004-10-01 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 816 kali ] Pertama, kita patut berbangga telah lahir dalam keluarga yang menganut Agama Hindu yang berarti pula kita berkewajiban meneruskan keyakinan itu. Sebab hingga kini kesucian agama kita masih tetap terjaga, tak tercemar sedikitpun oleh penyelewengan-penyelewengan atau penyalahgunaan orang per orang atau kelompok untuk kepentingan duniawi saja.
Artinya, konsep-konsep Hindu yang universal tidak mengajarkan untuk melakukan siasat-siasat atas nama agama untuk kepentingan duniawi yang menyimpang dari tujuan agama itu sendiri seperti ekspansi, misionarisasi, konversi, teroris, dan lain-lain walaupun menurut Yajur Weda, agama Hindu juga sebenarnya adalah agama misi yang harus disebar luaskan.
Sifat universal yang diajarkan Hindu tercermin dari beberapa pernyataan-pernyataan seperti, not the right to preach and convert yang diungkapkan oleh KR Narayanaswary. Bahwa kebebasan agama hanya mengandung arti hak untuk melaksanakan keyakinan di mana orang itu dilahirkan, bukannya hak untuk mengalihagamakan orang lain. Begitu juga Vasudewa Kotum Bakam yang dikutip oleh Ida Pedanda Made Gunung dalam pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat, George W Bush, bersama beberapa tokoh agama lainnya beberapa waktu lalu di Bali. Bahwa seluruh manusia di dunia ini merupakan suatu keluarga besar. Kalaupun ada perbedaan dalam menyebut Tuhan, kenapa itu harus dipermasalahkan jika semua kepercayaan itu bermuara pada Tuhan yang satu itu juga. Selain itu kita juga mengenal Tat Tvam Asi dan lain-lain yang selalu menyediakan tempat yang sama besar bagi kebebasan hidup manusia dalam melaksanakan kebenaran, apapun bentuknya.
Berangkat dari hal itu, kehidupan manusia Hindu pun telah diatur sedemikian rupa menjadi tatanan yang sangat proporsional sesuai dengan bagian-bagian dimana seseorang semestinya berada. Seperti ajaran tentang catur warna (yang karena proses sosial mengalami pengaburan makna menjadi kasta) yang mengelompokkan manusia sesuai dengan amal bhakti dan kemampuannya. Sehingga seorang Brahmana (agamawan) akan sangat tidak cocok jika ia terjun ke dunia politik (pemerintahan), karena itu adalah tugas seorang Ksatrya. Begitu seterusnya. Oleh sebab itu Hindu lebih cenderung menekankan keharmonisan tanpa banyak berpolitik sejauh politik itu diartikan sebagai cara-cara untuk mencapai tujuan bagi seseorang atau kelompok yang mengatasnamakan agama dengan merugikan orang atau kelompok lainnya. Sebab, agama sering dijadikan tameng untuk melakukan suatu konspirasi politik dan itu kelihatannya sangat efektif. Kitapun menyadari bahwa praktek-praktek semacam itu telah lama dilakukan orang. Bahkan tak jarang ada yang melakukannya dengan cara-cara yang sangat ekstrim, dimana seolah-olah mereka berbuat untuk Tuhan dengan mengorbankan kemanusiaan.
Kebenaran Hindu tidak dapat diukur hanya dari kehidupan duniawi saja. Apakah dengan menjadi suatu kelompok besar seseorang atau kelompok itu akan mencapai kebahagiaan? Apakah dengan membunuhi orang atau kelompok yang tidak seiman seseorang akan masuk surga? Apakah dengan diberi materi (umumnya uang) seseorang akan menemukan kebenaran?
Tidakkah semua itu cenderung menyesatkan? Bisa jadi disini kita tidak benar-benar membicarakan agama, tetapi adalah manusianya. Sebab saya pernah mendengar kata-kata seperti ini: Agama dan manusia adalah dua hal yang berbeda. Ajaran mungkin saja biadab tapi manusianya belum tentu. Sebaliknya, ajaran mungkin saja tidak biadab namun manusianya mungkin saja biadab.
Kebiadaban seorang penganut ajaran tertentu bisa saja berbentuk kesalahkaprahannya dalam memahami ajaran agamanya, sehingga ia cenderung menjadi “useful idiot”. Istilah useful idiot ini pertama kali diungkapkan oleh Vladimir Lenin sebagai kritik terhadap pengikut partai komunis di Rusia saat itu yang menelan begitu saja seluruh ajaran partainya, meskipun ajaran itu sama sekali bohong. Kemudian Richard Cohen, seorang kolumnis kenamaan di harian Washington Post memakai kembali istilah itu untuk menggambarkan prilaku politik Presiden AS George W Bush atas Iraq. Lalu Benny Phang, seorang pemerhati masalah etika CUA-Washington DC, mengejawantahkan istilah useful idiot itu pada skala yang lebih luas. Dalam artikel opini yang ditulisnya (Kompas, 18/11/2003) ia mengatakan, “Mendidik insan muda menjadi religius dengan menutup kemungkinan untuk memahami orang lain yang berbeda dengan dirinya dan keyakinannya akan membuat orang menjadi apa yang disebut fach-idioten (ahli yang bodoh, melulu tahu satu hal saja), dan akhirnya bisa menjadi fanatik dengan kepercayaan yang dianutnya. Insan yang fanatik dan idiot dengan mudah akan menjadi insan useful, yakni manusia yang mudah digunakan”.
Mungkin hal itu juga yang menjadi alasan kenapa Weda takut didekati oleh orang-orang yang bodoh. Lalu bagaimana sikap kita menghadapi para usefull idiot ini yang kadang-kadang baik dengan sakartis maupun satiris bahkan frontal menunjuk-kan bahwa tidak ada agama lain yang lebih benar selain agamanya? Mungkin kalau didasari oleh harga diri, kita takkan membiarkan berbagai bentuk penghinaan terhadap agama yang kita anut. Sebab, simbul agama sangat melekat pada diri setiap manusia. Jika ada yang tidak bereaksi ketika seseorang menyinggung agamanya, bisa jadi ia tidak begitu meyakini agamanya. Namun jika didasari oleh konsep universal seperti tersebut di atas, kitapun rasanya tak perlu harus mati-matian membela diri, malah sebaiknya menghindar saja dari perdebatan itu, sejauh tujuannya hanya memperbandingkan nilai kebenaran agamanya dengan agama kita. Sebab kita tidak mungkin akan “menyabung” Tuhan Kita dengan Tuhan-nya.
Dengan siapa Tuhan akan berperang sementara kita yakin bahwa Dia hanya ada satu?. Mungkin hanya manusialah yang akan berperang dengan kebodohannya.
Dalam hal ini saya juga setuju dengan salah satu pernyataan Karen Armstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan bahwa pembicaraan mengenai Tuhan adalah pembicaraan yang sangat sulit. Jadi, tidak ada yang akan bisa memutuskan siapa yang paling benar. Yang perlu kita lakukan adalah meyakini dan mendalami kembali pemahaman kita terhadap agama Hindu.
Jangan pernah berpikir untuk pindah agama sebelum memahami betul agama yang kita anut meski dalam situasi apapun yang sifatnya duniawi. Tapi kita juga tetap harus belajar memahami agama orang lain untuk menjauhkan kita dari sikap apatis terhadap orang lain. Sebab, dari pemikiran apatis itu akan muncul kebencian, dan dari kebencian akan muncul kemarahan, begitu seterusnya sehingga akhirnya kita hanya akan memakan dosa saja.
(Penulis adalah wartawan surat kabar lokal di Padang, Sumatera Barat).
Oleh: Kadek Swarna Dwi Arya Putera
|